Sabtu, 20 Desember 2008

PENGARUH KEGIATAN PROMOSI TERHADAP KEPUASAN DAN PENINGKATAN JUMLAH PELANGGAN PADA RESTORAN STEAK & RIBS KENYOT CORP

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pada saat ini yang dibutuhkan oleh para konsumen dalam hal pemilihan suatu barang atau jasa adalah informasi. Para produsen menginformasikan barang atau jasanya ke konsumen melalui suatu program promosi. Program promosi merupakan saluran primer bagi komunikasi pesan kepada konsumen, baik konsumen yang ada maupun nasabah potensial (Stanton,1996). Hal ini merupakan salah satu srategi bagi para produsen untuk meningkatkan jumlah pelanggannya.
Penulis melakukan suatu penelitian kepada salah satu restoran yang berada di Jakarta Barat yang bernama ‘Restoran Steak & Ribs Kenyot Corp’. Restoran ini berencana untuk meningkatkan jumlah pelanggannya di tahun 2008. Manajemen tersebut semenjak tahun 2006 telah menyadari bahwa bagian penting dari instrument pemasaran produk perbankan adalah pesan (message) yang dikomunikasikan kepada pelanggan melalui berbagai unsur yang terdapat dalam program promosi. Hal ini menuntut pihak penyedia jasa restoran untuk mencermati strategi-strategi pemasaran yang paling tepat.
Salah satu unsur pemasaran yang berpengaruh terhadap perilaku pelanggan restoran adalah paduan pengelolaan produk dan promotion mix (Oktobriono, 2003). Pengelolaan produk lebih menekankan bahwa pelanggan memerlukan jenis-jenis dan fasilitas pelayanan tertentu, seperti variabel kualitas makanan, jenis menu dan sajian makanan, hadiah dan pelayanan. Sedangkan promotion mix adalah variabel promosi yang menggunakan kombinasi iklan, sales promotion dan personal selling.
Menurut Juanda (2005) faktor yang menjadi pertimbangan utama pelanggan dalam memilih restoran dan cafe adalah produk, pelayanan dan promosi. Produk mencerminkan persepsi nasabah terhadap variasi dan kualitas produk serta jasa yang diberikan oleh restoran, serta persepsi kualitas pelayanan para karyawannya. Sedangkan promosi mencerminkan persepsi pelanggan terhadap kegiatan sales promotion dan personal selling yang dilakukan.
Sampai dengan saat ini Manajemen Restoran masih belum memperoleh gambaran yang pasti tentang pengaruh kegiatan promosi terhadap kepuasan dan peningkatan jumlah pelanggan serta strategi dan kebijakan apa yang perlu dilakukan untuk meningkatkan jumlah pelanggannya.

1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka penelitian ini masalah pokok yang hendak didiskripsikan adalah :
1. Bagaimana pengaruh kegiatan promosi terhadap kepuasan dan peningkatan jumlah pelanggan ?
2. Berapa perkiraan peningkatan jumlah pelanggan pada tahun 2008 ?
3. Strategi dan kebijakan apa yang perlu dilakukan untuk meningkatkan jumlah pelanggan pada tahun 2008?

1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendiskripsikan peningkatan jumlah pelanggan Restoran Steak & Ribs Kenyot Corp pada tahun 2008.

BAB II
METODOLOGI PENELITIAN

2.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian survei yang dimaksudkan untuk memberikan penjelasan atau disebut sebagai explanatory research atau confirmatory research. Penelitian survei merupakan penelitian yang mengambil sampel dan satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan yang pokok.

2.2 Populasi dan Sampel

2.2.1 Populasi
Populasi adalah jumlah keseluruhan dari unit analisis yang ciri-cirinya akan diduga (Singarimbun dan Sofian Effendi, 1995:152).
Peneliti mengambil lokasi perumahan di sekitar Restoran Steak & Ribs Kenyot Corp. Jadi, populasi dalam penelitian ini adalah 560 orang.

2.2.2 Sampel
Berdasarkan teknik random sampling yang dikemukakan oleh Arikunto, bahwa sampel penelitian adalah 30% dari jumlah populasi. Besar sampel dalam penelitian ini minimal adalah 168 responden (30% x 560).

2.3 Model Penelitian
Model penelitian yang penulis lakukan adalah penelitian dalam model :
1. Regresi linear berganda. Independent variable (variabel bebas) adalah promosi dan kepuasan. Dependent variable (variabel tak bebas) adalah jumlah pelanggan. Dengan demikian, model persamaan regresi linear berganda sebagai berikut : JP = a + b1 P + b2 K + e
Ket : JP : Jumlah Pelanggan
a : Konstanta
b1,b2 : Koefisien variabel
P : Promosi
K : Kepuasan
e : Standard error
2. Forecasting (Peramalan). Dengan adanya peramalan maka dapat diketahui peningkatan pelanggan dimasa yang akan datang dan juga peramalan digunakan dalam decision making karena hasil peramalan merupakan informasi yang mendasari keputusan para manajer perusahaan dalam berbagai tingkatan manajemen perusahaan. Dalam peramalan, penulis menggunakan 3 model yaitu :
1. Moving Average / MA (Rata-Rata Bergerak)
2. Weight Moving Average / WMA (Rata-Rata Bergerak Tertimbang)
3. Exponential Smoothing / ES

2.4 Variabel
Variabel yang berpengaruh dalam penelitian ini adalah :
a. promosi,
b. kepuasan konsumen / pelanggan,
c. jenis-jenis produk dan fasilitas pelayanan yang diperlukan oleh konsumen / pelanggan,
d. unsur paduan pemasaran yang digunakan.

2.5 Rancangan Analisis
Peneliti mengajukan suatu kerangka kerja konseptual dimana unsur promotion mix dihubungkan dengan jumlah kedatangan konsumen.


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat penulis uraikan adalah :
Promosi akan mempengaruhi terhadap kepuasan dan peningkatan jumlah pelanggan restoran secara signifikan. Bentuk promosi harus ditingkatkan serta di evaluasi setiap bulan dalam tujuan mempertahankan serta menambah jumlah pelanggan.


3.2 Saran
Saran yang dapat penulis sampaikan adalah :
Manajemen restoran dapat melakukan suatu bentuk promosi yang bervariasi menurut keadaan yang konsumen inginkan. Seperti:
1. pada akhir bulan manajemen memberikan diskon kepada pelanggannya.
2. Menu baru yang disajikan berbeda setiap bulan.
3. Dekorasi ruangan sesuai hari-hari special ( tahun baru, valentine).
4. Pelatihan khusus kepada pelayan restoran.

Kamis, 20 November 2008

ANALISIS MINAT KUNJUNGAN MAHASISWA TERHADAP INTERNET LOUNGE UNIVERSITAS GUNADARMA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Salah satu indikator untuk menentukan kualitas sumber daya manusia adalah pengetahuan yang dimiliki, karena pengetahuan menjadi sumber daya utama pembangunan nasional. Sehingga menempatkan pelayanan pendidikan dan pelatihan pada posisi yang menentukan, karna manusia yang berpengetahuan adalah keluaran dari suatu system pendidikan atau pelatihan.

Internet merupakan salah satu media dalam memperoleh informasi yang dapat meningkatkan pengetahuan dalam bidang Teknologi Informasi. Universitas Gunadarma sebagai salah satu perguruan tinggi sangat memperhatikan hal tersebut dalam membina serta melatih mahasiswa yang merupakan misinya dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Pelayanan yang diberikan pada umumnya ditujukan untuk kebutuhan mahasiswa.

Dengan adanya fasilitas tersebut sudah tentu adanya kepuasan dan ketidak puasan terhadap pelayanan yang dapat menjadi pembangun atau perusak pada suatu sistem. Oleh karena itu, diperlukan suara dari mahasiswa selaku pengguna yang dapat menyuarakan aspirasinya dalam memperbaiki kualitas pelayanan Internet Lounge.

Kepuasan konsumen sendiri diartikan sebagai suatu keadaan dimana harapan konsumen terhadap suatu jasa sesuai dengan kenyataan yang diterima oleh konsumen tersebut tentang kemampuan jasa tersebut. Jika jasa tersebut jauh dibawah harapan konsumen maka ia akan kecewa. Sebaliknya jika jasa tersebut memenuhi harapan konsumen, maka ia akan senang. Harapan-harapan konsumen ini dapat diketahui dari pengalaman mereka sendiri saat menggunakan jasa tersebut,

Sesuai definisi dari Kottler, jasa adalah suatu yang tidak berwujud dan dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. ( Kotler 2003 : 444 )

Any act or performance that one party can offer to another that is essentially intangible and does not result in the ownership of anything

Pembahasan tentang kualitas jasa merupakan sesuatu yang kompleks karena penilaian kualitas jasa berbeda dengan penilaian terhadap kualitas produk, terutama karena sifatnya yang tidak nyata (intangible) dan pola produksi serta konsumsinya yang berjalan secara simultan. Disamping perbedaan karakteristik ini, dalam penilaian kualitas jasa, konsumen terlibat secara langsung serta ikut di dalam proses jasa tersebut, sehingga yang dimaksud dengan kualitas jasa adalah bagaimana tanggapan konsumen terhadap jasa yang dikonsumsi atau yang dirasakan (Jasfar 2002 : 62)

Universitas Gunadarma selalu berusaha untuk melayani dengan baik dalam segala kebutuhan mahasiswa, dengan harapan mahasiswa merasa terpuaskan. Pelayanan yang baik juga dapat membentuk sebuah citra yang baik bagi Universitas Gunadarma, dimana akan memberikan dampak yang baik dalam berkompetisi dengan universitas swasta lainnya.Hal yang dilakukan Universitas Gunadarma adalah penyediaan jasa internet secara gratis untuk kalangan mahasiswa yang dikenal dengan Internet Lounge.

Faktor masalah tersebut yang perlu diperhatikan dalam peningkatan fasilitas internet diantaranya waktu pemakaian, fasilitas, pelayanan, keamanan dan kecepatan browsing. Dalam memberikan layanan kepada mahasiswa, kualitas layanan Internet Lounge perlu diteliti secara berkesinambungan.

Sehubungan dengan hal diatas, maka kami bermaksud untuk membahas riset penelitian ini yang berjudul ” Pengaruh Fasilitas Internet Lounge terhadap minat berkunjung mahasiswa”

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan judul dan uraian diatas maka perumusan masalah sebagai berikut:

Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi minat kunjungan mahasiswa terhadap fasilitas Internet Lounge Universitas Gunadarma?

1.3 Batasan Masalah

Atas dasar latar belakang serta rumusan masalah maka penulis membatasi masalah dalam penulisan ini. Adapun batasan masalah yang akan dibahas yaitu minat kunjungan mahasiswa terhadap fasilitas Internet Lounge. Kuesioner dibagikan pada 20 sampel/responden dengan jumlah pertanyaan adalah 7 variabel. Penyebaran kuesioner dilakukan pada minggu ketiga bulan Oktober tanggal 23 Oktober 2008.

1.4 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penulisan riset ini adalah

1. Mengetahui tingkat minat kunjungan mahasiswa terhadap fasilitas Internet Lounge yang disediakan Universitas Gunadarma.

2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi minat kunjungan mahasiswa terhadap fasilitas Internet Lounge.

1.5 Manfaat Penelitian

1. Bagi penulis, menambah wawasan dan pengetahuan yang berkaitan dengan analisis tingkat kepuasan mahasiswa.

2. Bagi Universitas Gunadarma, dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi dalam meningkatkan kualitas pelayanan Internet Lounge.

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1.1 Cara Memuaskan Pengunjung

Ada empat tahap dalam pemulihan jasa dalam memuaskan keluhan pelanggan, yakni:

1. Mengindentifikasi kegagalan jasa

Hambatan terbesar dalam upaya pemulihan jasa adalah fakta bahwa hanya sekitar 5-10% dari pengunjung yang tidak puas yang melakukan komplain, sebagian besar mereka justru memilih tidak akan menggunakan kembali. Untuk mengatasi hambatan tersebut, dibutuhkan beberapa pendekatan diantaranya:

a. Mengomunikasikan pentingnya Pemulihan Jasa.

Pemulihan jasa berkaitan erat dengan upaya mewujudkan kepuasan pengunjung dan meningkatkan relasi dengan pengunjung.

b. Melatih pengunjung mengenai cara menyampaikan komplain.

c. Memanfaatkan dukungan.

Untuk memudahkan dalam melakukan komplain, Internet Lounge menggunakan tempat kotak dan saran untuk menampung keluhan dari pengunjung.

2. Pemecahan Masalah Pengunjung.

Ada beberapa cara untuk memuwujudkan pemecahan masalah, yakni:

a. Memberikan hasil yang adil.

Bila terjadi kegagalan jasa, pengunjung berharap ada kompesasinya. Bentuknya bisa berwujud permohonan maaf.

b. Menyediakan proses yang adil.

Prosedur yang adil mencakup tiga elemen penting, yakni:

1. Internet Lounge mengemban tanggung jawab atas kegagalan jasa.

2. Setiap komplain ditangani dengan cepat.

3. Adanya sistem yang fleksibel dan mempertimbangkan pula situasi individual serta masukkan dari pengunjung mengenai pelayanan yang diberikan.

c. Merealisasikan interaksi yang adil

Perilaku relasi antar pribadi yang adil meliputi kesopanan, perhatian dan kejujuran, penjelasan atas kegagalan jasa yang terjadi dan usaha yang tulus dalam memecahkan masalah yang dihadapi pengunjung.

3. Komunikasi dan Klasifikasi Kegagalan Jasa.

Situasi yang menyebabkan kegagalan jasa yang disebabkan oleh dua factor yaitu:

a. Penjaga Internet Lounge kurang perhatian dalam mendengarkan uraian pengunjung mengenai masalah yang terjadi.

b. Banyak komplain tidak pernah ditangani.

4. Integrasi data dan penyempurnaan jasa keseluruhan

Pada umumnya pengunjung cenderung hanya ingin menyampaikan komplain mengenai masalah-masalah yang mereka persepsikan penting. Akan tetapi, pengunjung jarang sekali melakukan komplain manakala terjadi kegagalan jasa. Implikasinya, Internet Lounge yang ingin menyempurnakan kualitas jasanya harus mengupayakan sumber informasi. Upaya yang dapat diambil untuk mendapat informasi adalah sebagai berikut:

  • Mengumpulkan data kualitas jasa
  • Mendistribusikan data
  • Investasi dalam penyempurnaan kualitas.

Menurut Parasuraman dkk. (1985), di dalam Fitzsimmons (2006), ada lima dimensi pokok yang berkaitan dengan kualitas jasa, yaitu bukti langsung, keandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati. Kemudian kelima dimensi ini dijabarkan dalam atribut yang totalnya berjumlah 22 atribut. Namun tidak ada keharusan perusahaan untuk menggunakan 22 atribut yang dikembangkan oleh Parasuraman dkk. (1985). Bukti langsung meliputi fasilitas fisik, peralatan, penampilan karyawan, dan materi promosi. Penting bagi suatu perusahaan untuk mengetahui seberapa jauh aspek bukti langsung yang paling tepat, yaitu masih memberikan impresi yang positif terhadap kualitas pelayanan yang diberikan, tetapi tidak menyebabkan harapan pelanggan yang terlalu tinggi.

2.1.2 Pengukuran Tingkat Kepuasan

Tidak ada satupun ukuran tunggal terbaik mengenai kepuasan pengunjung yang disepakati secara univerasal. Meskipun demikian, ditengah beragamnya cara mengukur kepuasan pengunjung, terdapat kesamaan paling tidak dalam enam konsep inti mengenai objek pengukura sebagai berikut:

1. Kepuasan pengunjung kesuluruhan.

Cara mengukurnya adalah langsung menanyakan kepada pengunjung seberapa puas mereka dengan fasilitas atau jasa.

2. Dimensi kepuasan pengunjung

Dalam mengumpulkan komponen-komponen ada empat langkah, yaitu:

  • Mengindentifikasi dimensi-dimensi kunci kepuasan pengunjung.
  • Pengunjung menilai fasilitas/jasa berdasarkan item-item spesifik, seperti fasilitas pelayanan.
  • Pengunjung menilai fasilitas/jasa pesaing berdasarkan item-item spesifik yang sama.
  • Pengunjung untuk menentukan dimensi-dimensi yang menurut mereka paling penting dalam menilai kepuasan pengunjung keseluruhan.

3. Konfirmasi harapan.

Kepuasan tidak diukur langsung, namun disimpulkan berdasarkan kesesuaian/ ketidaksesuaian antara harapan pengunjung dengan kinerja actual fasilitas/jasa pada sejumlah atribut atau dimensi penting.

2.2. Pengertian Kualitas Pelayanan.

2.2.1. Kualitas Pelayanan

Kualitas adalah sebuah kata yang bagi penyedia jasa merupakan sesuatu yang harus dikerjakan dengan baik. Aplikasi kualitas sebagai sifat dari penampilan fasilitas atau kinerja merupakan bagian utama strategi Internet Lounge dalam rangka meraih keunggulan yang berkesinambungan. Keunggulan suatu fasilitas/jasa adalah tergantung dari keunikan serta kualitas yang diperlihatkan oleh jasa tersebut, apakah sudah sesuai dengan harapan dan keinginan pengunjung.

2.2.2. Mengelola kualitas jasa.

Suatu cara Internet Lounge untuk tetap unggul bersaing adalah memberikan jasa dengan kualitas yang lebih tinggi secara konsisten. Harapan pengunjung dibentuk oleh pengalaman masa lalunya, pembicaraan dari mulut ke mulut.

Adapun model dibawah ini mengidentifikasikan lima kesenjangan yang mengakibatkan kegagalan penyampaian jasa, yaitu:

1. Kesenjangan antara harapan pengguna dan persepsi manajemen. Manajemen tidak selalu mamahami benar apa yang menjadi keinginan pengunjung.

2. Kesenjangan antara persepsi manajemen dan spesifikasi kualitas jasa. Manajemen mungkin benar dalam memahami keinginan pengunjung, tetapi tidak menetapkan standar pelaksanaan yang spesifik.

3. Kesenjangan antara spesifikasi kualitas jasa dan penyampaian pesan jasa. Para personil mungkin tidak terlatih baik dan tidak mampu memenuhi standar.

4. Kesenjangan antara penyampaian jasa dan komunikasikan eksternal. Harapan pengunjung dipengaruhi oleh pernyataan yang dibuat Internet Lounge.

5. Kesenjangan antara jasa yang dialami dan jasa yang diharapkan. Terjadi bila pengunjung mengukur kinerja Internet Lounge dengan cara yang berbeda dan memiliki persepsi yang keliru mengenai kualitas jasa.

Menurut Aritonang (2005), ada beberapa cara untuk dijadikan dasar dalam menentukan atribut atau dimensi yang diprioritaskan untuk diperbaiki di waktu mendatang berdasarkan data kepuas-an pelanggan yang diperoleh. Cara itu di antaranya penggunaan skor kesenjangan dan kuadran.

Menurut Husein Umar (2000), diagram kartesius merupakan alat analisis yang digunakan untuk menentukan strategi peningkatan pelayanan dengan melihat hubungan kinerja atau tingkat pelaksanaan pelayanan yang dilakukan oleh pihak perusahaan dengan kepuasan yang diharapkan oleh pelanggan. Diagram kartesius merupakan bangunan yang terdiri dari 4 bagian yang dibatasi oleh dua buah garis yang berpotongan tegak lurus pada titik x rata-rata dan y rata-rata. Titik x rata-rata merupakan nilai skor rata-rata dari tingkat pelaksanaan atau kepuasan pelanggan seluruh faktor/atribut. Titik y rata-rata merupakan nilai skor rata-rata dari tingkat kepentingan seluruh faktor yang memengaruhi kepuasan pelanggan. Kuadran A, B, C dan D menunjukkan tingkat prioritas atribut. Kuadran A, menunjukkan prioritas atribut yang dianggap penting dan perlu diperbaiki. Kuadran B, menunjukkan prioritas atribut yang dianggap penting dan perlu dipertahankan karena pelanggan dianggap telah terpuaskan. Kuadran C, menunjukkan prioritas atribut yang dianggap kurang penting tetapi tingkat kepuasan konsumen cukup baik. Kuadran D, menunjukkan prioritas atribut yang kurang dianggap penting tetapi tingkat kepuasan konsumen sangat puas.

2.3. PENELITIAN SEJENIS

Judul :Analisis kepuasan mahasiswa terhadap pelayanan PSMA ON-LINE pada Universitas Gunadarma

Tahun : 2007

Nama Pengarang : Roland Tanggu Ndendo dan Hotniar Siringoringo

HASIL PENELITIAN;

Kepuasan pelanggan pada kelima dimensi kualitas pelayanan PSMA On-line dianggap belum cukup baik. Hal ini mengindikasikan bahwa pelanggan belum terpuaskan dengan sistem pelayanan yang ada saat ini. Atribut pelayanan yang perlu dilakukan perbaikan adalah ketepatan PSMA On-line mengawali kegiatan pelayanan pada pukul 09.00 WIB, ketepatan karyawan PSMA On-line istirahat dari pukul 12.00 s/d 13.30 WIB, area ruangan pengisian KRS, area ruangan pembuatan KTM, kenyamanan fasilitas AC pada tempat pembuatan KTM, kejelasan pengeras suara pada PSMA On-line didengar oleh mahasiswa, kecukupan waktu tambahan yang diberikan PSMA On-line selama 15 hari bagi mahasiswa yang telat mengisi KRS, petugas PSMA On-line membuat mahasiswa terasa nyaman/aman dalam mengisi KRS dan daftar ulang, dan kemampuan karyawan PSMA On-line menjawab pertanyaan/keluhan mahasiswa mengenai pelayanan PSMA On-line dengan jelas. Atribut tersebut perlu dilakukan perbaikan karena harapan pelanggan tinggi namun kinerja PSMA On-line dianggap rendah.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Objek Penelitian

Objek penelitian dari penulisan ilmiah ini adalah pemakai jasa INTERNET LOUNGE UNIVERSITAS GUNADARMA dengan besarnya sampel 50 responden khususnya mahasiswa manajemen-S1 tingkat 3.

3.2 Data / Variabel

Data yang diambil adalah data primer yaitu data yang langsung di dapat dari pemakai.

3.3 Metode Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data dan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian, penulis menggunakan beberapa metode yaitu:

a. Studi Lapangan

Melakukan penelitian lapangan dengan maksud untuk mendapat data yang sesuai dengan masalah yang hendak di bahas. Dan metode yang digunakan mendapat informasi tersebut sebagai berikut:

1. Survei

Pemberian kuisioner kepada pengguna jasa INTERNET LOUNGE yang berisikan pertanyaan yang mencakup aspek waktu pemakaian, pelayanan dan ketertiban guna melihat respon balik atau kepuasan yang didapat oleh pengguna jasa INTERNET LOUNGE UNIVERSITAS GUNADARMA.

2. Sampel

Besarnya sampel yang diambil guna melihat kepuasan atas pelayanan yang diberikan oleh Internet Lounge Universitas Gunadarma sebanyak 50 responden.

3.4 Alat analisis yang digunakan

Metode alat analisis yang digunakan dalam penulisan ilmiah ini adalah metode deskriptif,

variable pengukurannya menggunakan skala Likert;

yaitu skala yang memberikan pilihan kepada peneliti untuk mempertimbangkan jawaban terhadap setiap pertanyaan secara terpisah, atau menggabungkan semua jawaban untuk menghasilkan angka keseluruhan untuk dijumlahkan.

” Jawaban setiap instrument yang menggunakan skala ini mempunyai gradasi positif sampai negative dan setiap jawaban tersebut di beri skor. ( M.M, Istijanto, 88, 2005)”

Serangkaian pertanyaan yang terdapat dalam kuisioner dimana skala tersebut mempunyai susunan sebagai berikut:

Tabel 1.1 Besar Bobot dan Kategori Penilaian

Bobot Kategori
1

2

3

4

Sangat tidak setuju

Tidak Setuju

Setuju

Sangat setuju

Berikut ini penjelasan atas kategori penilaian yang digunakan untuk menilai pelayanan yang diberikan Internet Lounge yakni:

1. Sangat tidak setuju untuk menyatakan sebuah perasaan kecewa yang sangat atas sebuah ketidak setuju an yang didapat.

2. Tidak setuju untuk menyatakan sebuah perasaan kecewa atas ketidak setuju an dalam penilaian.

3. Setuju untuk menyatakan keadaan yang di dapat dari fasilitas tersebut.

4. Sangat setuju untuk menyatakan keadaan sangat setuju atas fasilitas yang telah disediakan.

Menurut Suparanto (2003), penggolongan kategori indicator di hitung berdasarkan nilai yang diperoleh dari kuisioner dengan cara mengalikan besar bobot ( nilai) pada kategori tertentu yang telah ditetapkan dengan jumlah responden yang menjawab masing-masing kategori tersebut.

Berdasarkan jumlah responden 50, maka dapat ditentukan bobot penilaian dengan menggunakan jarak, yang dapat dihitung melalui nilai tertinggi dan terendah sebagai berikut:

A. % jumlah responden : Jumlah responden X 100%

50

B. Nilai tertinggi : 4 X 50 Responden = 200

C. Nilai terendah : 1 X 50 Responden = 50

D. Jarak : 200 - 50 = 150

E. Interval : Jarak / Jumlah kelas = 150/7 = 21.5

Maka ditentukan pengelompokan sebagai berikut:

Tabel 3.4.2 Kelas Interval dan Penilaian

Interval Penilaian
50- 71.5

72- 93.5

94- 115.5

116- 137.5

Sangat tidak puas

Tidak puas

Puas

Sangat Puas

PENGEMBANGAN HASIL KUISIONER

1. Waktu Pemakaian

1.1 Pertanyaan mengenai IL tentang waktu 20 menit sudah cukup (pertanyaan variable 1 indikator 1)

Dari data diperoleh 20% menyatakan setuju, 60% menyatakan tidak setuju dan 20% menyatakan sangat tidak setuju. Ini menunjukan bahwa waktu 20 menit sudah cukup didalam IL dikategorikan tidak puas.

Penilaian Sangat

Setuju

Setuju Tidak

Setuju

Sangat

Tidak setuju

Jumlah
Bobot nilai 4 3 2 1
Frekuensi
10 30 10 50
Prosentase
20 60 20 100
Nilai
30 60 10 100

1.2 Pertanyaan mengenai IL tentang 1 kali pemakaian dalam 1 hari (pertanyaan variable 1 indikator dari data diperoleh 2% menyatakan sangat setuju, 26 % menyatakan setuju, 50% menyatakan tidak setuju dan 22% menyatakan sangat tidak setuju. Ini menunjukan bahwa IL dalam 1 kali pemakaian dalam 1 hari dikategorikan tidak puas.

Penilaian Sangat

Setuju

Setuju Tidak

Setuju

Sangat

Tidak setuju

Jumlah
Bobot nilai 4 3 2 1
Frekuensi 1 13 25 11 50
Prosentase 2 26 50 22 100
Nilai 4 39 50 11 104

2. Aspek Fasilitas

2.1 Pertanyaan mengenai IL tentang tempat Lounge yang nyaman karena sudah dilengkapi dengan AC dan tempat sampah(pertanyaan variable 2 indikator 1) dari data diperoleh 20% sangat setuju, 70% setuju dan 10% tidak setuju. Ini menunjukan bahwa pertanyaan mengenai IL tentang tempat lounge yang nyaman karena sudah dilengkapi dengan AC dan tempat sampah dikategorikan puas

Penilaian Sangat

Setuju

Setuju Tidak

Setuju

Sangat

Tidak setuju

Jumlah
Bobot nilai 4 3 2 1
Frekuensi 10 35 5
50
Prosentase 20 70 10
100
Nilai 40 105 10
155

3. Aspek Kapasitas Komputer

3.1 pertanyaan mengenai jumlah computer yang sudah memadai(pertanyaan variable 2 indikator 1) dari data diperoleh 4% menyatakan sangat setuju, 48% menyatakan setuju, 44% menyatakan tidak setuju dan 4% menyatakan sangat tidak setuju. Ini menunjukan bahwa jumlah computer yang sudah memadai dalam IL dikatagorikan puas.

Penilaian Sangat

Setuju

Setuju Tidak

Setuju

Sangat

Tidak setuju

Jumlah
Bobot nilai 4 3 2 1
Frekuensi 2 24 22 2 50
Prosentase 4 48 44 4 100
Nilai 8 72 44 2 126

4. Aspek Pelayanan

4.1 pertanyaan mengenai pelayanan yang ramah dalam IL (pertanyaan variable 4 indikator 1). Berdasarkan hasil penelitian di peroleh 12% menyatakan sangat setuju, 74% menyatakan setuju, 14% menyatakan tidak setuju. Ini menunjukan bahwa pelayanan yang ramah dalam IL dikategorikan puas.

Penilaian Sangat

Setuju

Setuju Tidak

Setuju

Sangat

Tidak setuju

Jumlah
Bobot nilai 4 3 2 1
Frekuensi 6 37 7
50
Prosentase 12 74 14
100
Nilai 24 111 14
149

4.2 Pertanyaan mengenai tentang IL dalam menerima saran dan keluhan dengan baik (variable 4 indikator 2) berdasarkan hasil penelitian didapat 8% menyatakan sangat setuju, 78% menyatakan setuju, 14% menyatakan tidak setuju. Ini menunjukan bahwa dalam IL mengenai saran dan keluhan dengan baik dikategorikan puas.

Penilaian Sangat

Setuju

Setuju Tidak

Setuju

Sangat

Tidak setuju

Jumlah
Bobot nilai 4 3 2 1
Frekuensi 4 39 7
50
Prosentase 8 78 14
100
Nilai 16 117 14
147

4.3 pertanyaan mengenai IL tentang tanggap membantu masalah pengunjung (variable 4 indikator 3). Berdasarkan hasil penelitian didapat 8% menyatakan sangat setuju, 74% menyatakan setuju dan 18% menyatakan tidak setuju. Ini menunjukan mengenai IL tentang tanggap membantu masalah pengunjung dikategorikan puas.

Penilaian Sangat

Setuju

Setuju Tidak

Setuju

Sangat

Tidak setuju

Jumlah
Bobot nilai 4 3 2 1
Frekuensi 4 37 9
50
Prosentase 8 74 18
100
Nilai 16 111 18
145

5. Aspek Kecepatan Browsing

Pertanyaan mengenai koneksi yang cepat (variable 5 indikator 1) berdasarkan hasil penelitian didapat 8 % menyatakan sangat setuju, 56% menyatakan setuju, 32% menyatakan tidak setuju dan 4% menyatakan sangat tidak setuju. Ini menunjukan bahwa mengenai koneksi yang cepat dikategorikan puas.

Penilaian Sangat

Setuju

Setuju Tidak

Setuju

Sangat

Tidak setuju

Jumlah
Bobot nilai 4 3 2 1
Frekuensi 4 28 16 2 50
Prosentase 8 56 32 4 100
Nilai 16 84 32 2 134

6. Aspek ketertiban

6.1 pertanyaan mengenai IL dalam antrian yang teratur (variable 6 indikator 1 ) berdasarkan hasil penelitian didapat 14% menyatakan sangat setuju, 66% menyatakan setuju, 20% menyatakan tidak setuju. Ini menunjukan bahwa IL dalam antrian yang teratur dikategorikan puas.

Penilaian Sangat

Setuju

Setuju Tidak

Setuju

Sangat

Tidak setuju

Jumlah
Bobot nilai 4 3 2 1
Frekuensi 7 33 10
50
Prosentase 14 66 20
100
Nilai 28 99 20
147

6.2 pertanyaan mengenai peraturan prosedur penggunaan internet yang sudah teratur (variable 6 indikator 2) berdasarkan hasil penelitian didapat 8% menunjukan sangat setuju, 74% menyatakan setuju, 9% menyatakan tidak setuju. Ini menunjukan tentang IL dalam peraturan prosedur penggunaan internet yang sudah teratur dikategorikan puas.

Penilaian Sangat

Setuju

Setuju Tidak

Setuju

Sangat

Tidak setuju

Jumlah
Bobot nilai 4 3 2 1
Frekuensi 4 37 9
50
Prosentase 8 74 18
100
Nilai 16 111 18
145

7. Aspek Keamanan

7.1 pertanyaan mengenai loker penyimpanan tas yang aman (variable 5 indikator 1) berdasarkan hasil penelitian didapat 20% menyatakan sangat setuju, 78% menyatakan setuju dan 2% menyatakan setuju. Ini menunjukan bahwa loker penyimpanan tas yang aman dikategorikan puas.

Penilaian Sangat

Setuju

Setuju Tidak

Setuju

Sangat

Tidak setuju

Jumlah
Bobot nilai 4 3 2 1
Frekuensi 10 39 1
50
Prosentase 20 78 2
100
Nilai 40 117 2
159

Keterangan:

* prosentase terbesar pada kolom sangat setuju dinyatakan sangat puas

* prosentase terbesar pada kolom setuju dinyatakan puas

* prosentase terbesar pada kolom tidak setuju dinyatakan tidak puas

* prosentase terbesar pada kolom sangat tidak setuju dinyatakan sangat tidak puas

Responden terhadap 50 orang yang mengisi kuisioner yang telah disebarkan terhadap 5 kelas manajemen ekonomi angkatan 2006 fakultas ekonomi Universitas Gunadarma Depok.

Kelas Sangat

Setuju

Setuju Tidak

Setuju

Sangat

Tidak setuju

Jumlah
3EA02 13 80 29 10 132
3EA03 7 68 30 5 110
3EA04 10 71 2 7 110
3EA06 14 69 24 3 110
3EA07 69 19

88
jUMLAH 113 307 105 25

HASIL ANALISIS;

Dari hasil penyebaran kuisioner yang telah dibagikan terhadap 5 kelas yaitu; 3EA01,02,03,04,06 dan 07. Didapatkan kesimpulan bahwa pengaruh fasilitas internet lounge terhadap minat berkunjung mahasiswa, prosentase terbesar didapat dari:

1. loker penyimpanan tas yang aman dengan prosentase 20% sangat setuju, 78% setuju dan 2% Tidak setuju.

2. Menerima saran dan keluhan dengan baik, dengan prosentase 8% sangat setuju, 78% setuju dan 14% Tidak setuju.

3. Pelayanan yang ramah, dengan prosentase 12% sangat setuju, 74% setuju dan 14% tidak setuju.

4. Peraturan prosedur penggunaan internet yang sudah teratur dengan prosentase 8% sangat setuju, 74% setuju dan 18% tidak setuju.

5. Tanggap membantu masalah pengunjung dengan prosentase 8% sangat setuju, 74% setuju dan 18% tidak setuju.

6. Tempat lounge yang nyaman karena sudah dilengkapi dengan AC dan tempat sampah dengan prosentase 20% sangat setuju, 70% setuju dan 10% tidak setuju.

7. Antrian yang teratur dengan prosentase 14% sangat setuju, 66% setuju dan 20% tidak setuju.

8. Koneksi internet yang cepat dengan prosentase 8% sangat setuju, 56% setuju dan 32% tidak Setuju.

9. Jumlah computer yang sudah memadai dengan prosentase 4% sangat setuju, 48% setuju, 44% Tidak setuju dan 4% sangat tidak setuju.

10. 1 kali pemakaian untuk 1 hari dengan prosentase 2% sangat setuju, 26% setuju, 50% tidak setuju dan 22% sangat tidak setuju.

11. Waktu 20 menit sudah cukup dengan prosentase 20% setuju, 60% tidak setuju dan 20% sangat tidak setuju.

Hasil data diatas didapat dari koresponden yang terdiri dari 5 kelas yaitu 3EA02,03,04,06 dan 07, tetapi hanya beberapa orang saja yang mengisi Kuisioner kamai dan ini diisi oleh responden yang berkisar umur dari 19 tahun sampai dengan 21 tahun.

KESIMPULAN

Berdasarkan data primer yang kami peroleh, berupa kuisioner yang dibagikan kepada mahasiswa tingkat 3 jurusan Manajemen, Universitas Gunadarma terhadap 5 kelas secara acak dengan sampling sebesar 20% dari total kuisioner untuk setiap kelasnya. Maka kami dapat simpulkan minat mahasiswa untuk mengunjungi Internet Lounge lebih besar dipengaruhi oleh loker penyimpanan tas yang aman. Dapat dilihat hasil pengisian kuisioner yang menunjukan 78% menyatakan setuju, 20% menyatakan sangat setuju dan hanya 2% yang menyatakan tidak setuju.

Jumat, 24 Oktober 2008

HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN KERJA DENGAN DISIPLIN KERJA KARYAWAN OPERATOR SHAWING COMPUTER BAGIAN PRODUKSI PADA PT.PRIMARINDO ASIA INFRASTRUKTUR Tbk DI B

Alamat : http://psikologi.binadarma.ac.id/jurnal/jurnal_muhaimin.pdf

Judul : HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN KERJA DENGAN DISIPLIN KERJA KARYAWAN OPERATOR SHAWING COMPUTER BAGIAN PRODUKSI PADA PT.PRIMARINDO ASIA INFRASTRUKTUR Tbk DI BANDUNG

Tahun : 2004

Topik : Pengaruh faktor-faktor kepuasan kerja terhadap disiplin kerja

ANALISIS

Yang melatar belakangi peneliti untuk menulis jurnal ini adalah terdapatnya masalah pada Karyawan Operator Shawing Computer Bagian Produksi Pada PT Primarindo Asia Infrastruktur Tbk Di Bandung dalam hal memproduksi barang (mengalami penurunan produktivitas) dan dalam hal kepuasan kerja terhadap disiplin kerja karyawan, sehingga perusahaan tidak mampu memenuhi target yang telah direncanakan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi pengaruh kepuasan kerja dan disiplin kerja atas kinerja Karyawan Operator Shawing Computer Bagian Produksi Pada PT Primarindo Asia Infrastruktur Tbk Di Bandung. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai masukan kepada PT Primarindo Asia Infrastruktur Tbk Di Bandung dalam menentukan langkah-langkah peningkatan produktivitas karyawan.

Metode yang dipakai pada penelitian ini adalah dengan menggunakan uji statistik. Uji statistik yang digunakan adalah uji korelasional; dengan menggunakan koefisien korelasi Rank Sperman (rs), aspek kepuasan kerja (aspek Hygiene factor dan aspek motivator factor).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil uji terhadap hipotesis penelitian dengan menggunakan uji korelasional Spearman Rank (rs), dirangkum pada Tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1

Hasil Pengujian Kepuasan Kerja Dengan Disiplin Kerja Karyawan

Kriteria Pengujian

Tolak Ho, jika T hitung > T tabel

Dengan α = 0,05 dk = n-2

Variabel

Hasil Pengujian

Kesimpulan

X dan Y

rs = 0,620

t hit = 4.99

t tab = 1,684

Karena t-hit > t-tab

Maka Ho ditolak

Dari Tabel 1 diperoleh rs = 0620 dan t hit = 4,99. Hasil tersebut menunjukkan bahwa t hit > tab (4,99 > 1.684). Dengan demikian, Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini berarti bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara kepuasan kerja karyawan dengan disiplin kerja karyawan pada bagian shawing di PT Primarindo Asia Infrastucture Tbk Bandung. Semakin tinggi kepuasan kerja karyawan, maka semakin baik disiplin kerja karyawan. Sebaliknya, semakin rendah kepuasan kerja karyawan, maka semakin buruk disiplin kerja karyawan.

Dari hasil uji korelasional di atas, dapat diketahui nilai koefisien determinasi sebesar 38.4% (d

= rs2 x 100%). Koefisien determinasi tersebut menunjukkan seberapa besar sumbangan variabel bebas (kepuasan kerja) terhadap variabel tergantung (disiplin kerja). Hal ini berarti bahwa kontribusi kepuasan kerja terhadap disiplin kerja sebesar 38.5%; dan terdapat 61,5% variansi lain, di luar kepuasan kerja dan tidak dinyatakan dalam penelitian ini, yang mempengaruhi disiplin kerja.

Kemudian tentang hubungan antara kepuasan kerja (aspek Hygiene factor) di peroleh rs = 0,534 dan t hit = 3,99, artinya t-hit >t-tab ( 3,99 >1,684 ). Terhadap hubungan antara aspek hygiene factor dari aspek kepuasan kerja dengan disiplin kerja, didapat d = 28,5. Hal ini berarti aspek hygiene factor memberikan kontribusi sebesar 28,5 %. Dan keterkaitan hubungan antara kepuasan kerja (aspek motivator factor) dengan disiplin kerja diperoleh rs = 0,620 dan t-hit = 4,99. Karena t-hit > t-tab ( 4,99 > 1,684 ) maka terdapat hubungan antara aspek motivator factor dari kepuasan kerja dengan disiplin kerja. Serta didapat d sebesar 38,4, hal ini berarti aspek motivator factor memberikan kontribusi sebesar 38,4 % terhadap disiplin kerja karyawan.

Dari hasil penelitian ini ternyata aspek kepuasan kerja baik aspek hygiene factor maupun aspek motivator factor mempunyai korelasi dengan aspek disiplin kerja.

PENGARUH MOTIVASI, KEPUASAN, DAN DISIPLIN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN

Alamat : http://eprints.ums.ac.id/146/1/TONI_LISYANTO.pdf

Judul : PENGARUH MOTIVASI, KEPUASAN, DAN DISIPLIN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN

Topik : Pengaruh faktor-faktor kepuasan kerja terhadap disiplin kerja

ANALISIS

Yang melatar belakangi peneliti untuk menulis jurnal ini adalah terdapatnya masalah pada penyelenggaraan PDAM Kota Surakarta. Berhasil atau tidaknya penyelenggaraan PDAM sangat dipengaruhi oleh faktor manusianya, yaitu pegawai PDAM yang melaksanakan tugas dan fungsi pelayanan, seperti : Motivasi, kepuasan kerja dan disiplin kerja bagi seluruh karyawan PDAM Kota Surakarta.

Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi pengaruh motivasi, kepuasan dan disiplin kerja atas kinerja pegawai di Kantor PDAM Kota Surakarta dan juga penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai masukan kepada Kantor PDAM Surakarta dalam menentukan langkah-langkah peningkatan mutu Sumber Daya Manusia.

Metode yang dipakai pada penelitian ini adalah dengan cara menyurvei karyawan/pegawai di Kantor PDAM Kota Surakarta dan juga dengan menggunakan teknik penentuan Subjek Penelitian (populasi,sampling dan sample), Data Penelitian (data kinerja, data motivasi;kepuasan;disiplin), teknik pengumpulan data dan teknik analisis (uji statistik: uji koefisien regresi parsial; uji ketepatan model (uji F, koefisien determinasi), uji asuransi klasik: uji normalitas; uji autokorelasi; uji heteroskedastisitas; multikolineritas).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Pengujian Instrumen

Dalam Pengujian Instrumen terdapat Instrumen Motivasi, Instrumen Kepuasan Kerja dan Instrumen Disiplin Kerja. Hasil pengujian dari ketiga Instrumen tersebut diperoleh hasil R-alpha (0,9057) > R-tabel (0,176). Artinya Instrumen Motivasi, Instrumen Kepuasan Kerja dan Instrumen Disiplin Kerja telah memenuhi kriteria persyaratan instrumen yang baik, yaitu valid dan reliabel.

2. Analisis Data

a. Deskripsi Data

1. Variabel Motivasi

Dikelompokkan menjadi 3 kelas yaitu skor motivasi rendah, sedang dan tinggi. Kelas skor motivasi rendah antara 21-34 sebanyak 40 responden atau 33,33 %, kelas skor motivasi sedang antara 35-45 sebanyak 36 responden atau 30,00 %, sementara skor motivasi tinggi antara 46-49 sebanyak 44 responden atau 36,67 %.

2. Variabel Kepuasan Kerja

Dikelompokkan menjadi 3 kelas yaitu skor kepuasan kerja rendah, sedang dan tinggi. Kelas skor kepuasan kerja rendah antara 18-20 sebanyak 44 responden atau 36,67 %, kelas skor kepuasan kerja sedang antara 21-41 sebanyak 33 responden atau 27,50 %, sementara skor kepuasan kerja tinggi antara 42-45 sebanyak 43 responden atau 35,83 %.

3. Variabel Disiplin Kerja

Dikelompokkan menjadi 3 kelas yaitu skor disiplin kerja rendah, sedang dan tinggi. Kelas skor disiplin kerja rendah antara 30-46 sebanyak 43 responden atau 35,83 %, kelas skor disiplin kerja sedang antara 47-67 sebanyak 37 responden atau 30,83 %, sementara skor disiplin kerja tinggi antara 68-75 sebanyak 40 responden atau 33,33 %.

b. Analisis Regresi Linier Berganda

1. Interpretasi dan Uji Statistik

Hasil regresi variabel motivasi 0,160 (motivasi meningkat 1 skor, maka kinerja pegawai meningkat 0,160 skor). Regresi variabel kepuasan kerja 0,298 (maka kepuasan kerja meningkat 0,298 skor). Regresi variabel disiplin kerja 0,118 (disiplin kerja meningkat 1 skor, maka kinerja meningkat 1,139 skor).

2. Interpretasi Uji-t

T-tabel variabel motivasi=3,133, kepuasan kerja=5,800 dan disiplin kerja=3,395, sedangkan besaran nilai t-tabel pada tingkat signifikan=1% adalah 2,326.

3. Uji Ketetapan Model (Goodness of Fit)

a. Uji F. Berdasarkan hasil perhitungan diketahui nilai t-hitung=625,221 dan tingkat signifikan=0,000 maka 3 variabel: Motivasi, Kepuasan Kerja dan Disiplin Kerja sudah tepat.

b. Uji Koefisien Determinasi (R²). Hasilnya diperoleh sebesar 0,942 (94,2%).

c. Uji Asumsi Klasik :

1. Uji Normalitas. Perhitungannya dengan Jarque Berra (JB)=7,846.Jadi JB > 9,2.

2. Uji Heteroskedastisitas. R²=0,041 dan N=120,sehingga 0,041x120=4,92 (standard error).

3. Uji Autokorelasi. Hasil analisisnya=1,793, maka data tidak terjadi autokorelasi.

4. Uji Multikonearitas. Berdasarkan asumsi R1²

Selasa, 23 September 2008

PENGARUH FAKTOR-FAKTOR KEPUASAN KERJA

Judul : PENGARUH FAKTOR-FAKTOR KEPUASAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PUSAT PENDIDIKAN KOMPUTER AKUNTANSI IMKA Dl
SURAKARTA
Topik : Pengaruh Faktor-Faktor Kepuasan Kerja Terhadap Disiplin Kerja
Pengarang : Parwanto, Wahyuddin
Alamat URL : http://eprints.ums.ac.id/144/1/PARWANTO+pdf

ANALISIS
Yang melatar belakangi peneliti untuk menulis jurnal ini adalah terdapatnya masalah pada beberapa karyawan yang memiliki tingkat kepuasan kerja yang tinggi tetapi tidak memiliki produktivitas yang tinggi.
Penelitian ini bertujuan untuk mencapai organisasi yang lebih baik dan akurat dengan cara mengetahui apakah faktor-faktor kepuasan kerja seperti : gaji, kepemimpinan dan sikap rekan sekerja,sangat berpengaruh terhadap kinerja karyawan pada Pusat Pendidikan Komputer Akuntansi IMKA di Surakarta.
Metode yang dipakai pada penelitian ini adalah metode analisis regresi linier berganda dimana faktor-faktor kepuasan kerja seperti gaji, kepemimpinan serta sikap rekan sekerja sebagai variable independen dan kinerja karyawan sebagai variable dependen. Penelitian ini menggunakan 2 (dua) model regresi linier berganda,yaitu : Model Regresi OLS (prosedur kuadrat terkecil biasa) dan Model regresi LPM (Linier Probability Model).
Berdasarkan hasil uji tanda baik dengan metode OLS maupun LPM menunjukkan bahwa hubungan semua aspek kepuasan kerja dan kinerja searah, yaitu setiap peningkatan kepuasan kerja akan meningkatkan kinerja pula.
Model OLS
Jika dilihat dari uji signifikan secara parsial (uji t) dapat disimpulkan bahwa hanya variabel sikap rekan sekerja yang tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat kerja, lalu berdasarkan besaran nilai b ketiga nilai regresi tersebut dapat diketahui bahwa variabel gaji mempunyai nilai yang lebih dominan. Jika melalui uji statistik F, maka tiga variabel tersebut terbukti tidak berpengaruh secara signifikan. Sedangkan menurut uji koefisien determinasi dihasilkan bahwa 26,7 % dari tiga variabel tersebut dapat menjelaskan variabel kinerja dan yang 73,3 % dijelaskan oleh variabel diluar model.
Model LPM
Berdasarkan hasil uji t, bahwa hanya variabel gaji yang tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel kinerja. Sedangkan menurut besaran nilai b ketiga nilai koefisien regresi tersebut yang mempunyai nilai yang paling dominan adalah variabel sikap rekan sekerja. Jika menggunakan uji F ketiga variabel tersebut terbukti berpengaruh secara signifikan. Lalu, menurut uji koefisien determinasi diperoleh bahwa 99,5 % tiga variabel bebas yang dimasukkan dapat menjelaskan variabel terikat yaitu kinerja, sedangkan yang 0,5 % dijelaskan oleh variabel di luar model.